Putri Deokhye merupakan putri dari Kaisar Gojong dan selirnya,
Lady Bongnyeong. Lahir pada tanggal 25 Mei 1912, Putri Deokhye menjadi putri
termuda keturunan dari Kaisar Gojong. Hal tersebut menjadikan sang Kaisar
begitu mencintai sang putri. Bahkan Kaisar Gojong membangun taman kanak-kanak
khusus untuk Putri Deokhye yaitu, 'Junmyeongdang'.
Meskipun saat Korea berada di bawah tekanan Jepang, Putri Deokhye dapat tumbuh dengan baik dan cerdas, keluarga kekaisaran dapat hidup dengan bahagia meski dibawah tekanan Jepang. Namun rupanya hal tersebut tidak bertahan lama, pada tahun 1919 Kaisar Gojong meninggal dunia.
Jepang tidak tinggal diam,
pada tahun 1925 diusia putri yang ke 13 tahun ia dibawa ke Jepang dengan alasan
untuk bersekolah. Namun alasan sebenarnya, Jepang sedang menahan sang putri
untuk menjadi tawanan hidup.
Di usia muda harus pergi jauh dari rumah dan keluarga membuat
kesehatan sang putri merosot jatuh. Terlebih ketika sang ibu menyusul untuk
pergi meninggalkan dunia. Putri Deokhye kemudian didiagnosa menderita demensia.
Setelah kesehatan sang putri membaik, Jepang memaksa Putri Deokhye untuk menikah dengan seorang bangsawan Jepang bernama So Takeyuki. Pada umur 18 tahun, putri melahirkan seorang bayi perempuan yang kemudian ia beri nama Masae atau Jeonghye dalam bahasa Korea. Pemaksaan yang dilakukan Jepang ini bermaksud untuk menghentikan kekuatan yang dimiliki keluarga kekaisaran Korea yang tersisa.
Dilarang kembali ke tanah air, dipaksa untuk tinggal di negara yang sedang menjajah tanah kelahirannya membuat putri seringkali menerima banyak penghinaan. Jepang juga seringkali menggunakan pengaruh yang miliki sang putri untuk mendoktrin orang Korea. Pada suatu waktu, Jepang pernah memaksanya untuk memberikan pidato mengenai Jepang dan besarnya negara itu pada anak-anak Korea yang sedang dibawa kerja paksa di Jepang.
Namun Putri Deokhye melakukan hal sebaliknya, ia berpidato mengenai harapan serta perjuangan yang harus masyarakat Korea lakukan untuk melawan Jepang. Karena hal ini, Putri Deokhye harus menerima pukulan bertubi.
Putri harus menahan tekanan seorang diri selama hidupnya,
putri kemudian jatuh semakin dalam dan menderita depresi. Ia juga tidak
diizinkan untuk kembali ke tanah airnya hingga pada tahun 1962 permintaannya
untuk kembali dikabulkan. Putri yang depresi lalu kembali pulang ke Korea dan
tinggal di Istana Changdeokgung hingga meninggal dunia pada tahun 1989.


Comments